Anak
muda, jiwa yang terus bergelora, mencari kemana jati dirinya berada. Hiruk
pikuk keramaian sekarang ini mudah ditemukan, dimana ekonomi ke-uang-an
bergulir, desa pun menjelma ke-kota-kota-an. Sebagian merasa nyaman meramaikan
perguliran uang sehingga kadang terasa tiada lagi sesuatu yang berharga tanpa
memiliki uang, namun ini hanya bagi mereka yang menganut ke-uang-an sebagai
dasar pada sila pertama pancasilanya. Sebagai makhluk yang berpikir dinamis,
hal ini akan terasa membosankan hidup hanya karena uang, kepuasan yang baru
akan dicari dengan sesuatu yang lebih mengekspresikan jiwa dan pikirannya.
Dari
masa ke masa senantiasa muncul hal baru
sebagai wujud ekspresi ini, dari geliat musik, pemikir-pemikir virtual,
olahraga ringan sampai menantang nan membahayakan, juga pencarian suasana
murni, indah tak banyak terjamah di alam bebas. Yang terakhir ini banyak
ditemui melalui organisasi kelompok pecinta alam. Kadangkala pecinta alam ini
sering disalah-artikan dengan petualang. Saya tegaskan, pecinta alam terdiri
dari 2 kata, yaitu pecinta dan alam. Pecinta berarti orang yang mencintai,
menyayangi, menjaga dengan sepenuh hati apa yang ia cintai ini. Sedangkan alam
berarti semesta, bumi, lingkungan tempat makhluk hidup berpijak. Pecinta takkan
cinta bila tak tahu apa yang ia cintai, sehingga jelas pecinta alam ialah
manusia yang mengenal alamnya, fungsinya, dan segala yang berkaitan dengannya. Alam
adalah tempat berlangsungnya kehidupan, tersusun atas komponen hidup (biotik)
dan tak hidup (abiotik) yang satu-sama lain saling mempengaruhi. Alam menjaga
keselarasan kehidupan, alam lestari,
kehidupan lestari. Alam musnah, kehidupan punah. Jelas, ini berbeda dengan
petualang yang sebenarnya masuk dalam kelompok olahraga ekstrim yang bahaya
adalah daya tarik utamanya, bahaya bagi jiwanya, bahaya pula bagi tempatnya.
Sungguh jelas, mencintai bukan untuk
membahayakan.
Pecinta
alam tidaklah mesti seorang anggota organisasi tertentu, sejatinya ia lebih
berorientasi pada kegitan yang pro alam. Dengan masuk sebuah organisasi,
tentunya aktifitas ini lebih terorganisir dengan adanya visi dan misi yang
menjadi pedoman. Namun teladan kegiatan pro alam ini dapat datang dari mana
saja, sebagai contoh dari “tukang bersih”, siapakah ini sang “tukang bersih”?. Mari kita simak mengenai sang “tukang bersih”
ini.
Dalam
sudut pandang saya, yang semoga pula banyak orang dapat sependapat bahwa ada
julukan yang buruk bahkan salah terhadap orang-orang yang bekerja dengan
mengumpulkan dan memanfaatkan kembali sampah. Mereka dijuluki “tukang sampah”,
padahal pekerjaan mereka bersih dan membersihkan. Bersih dalam arti bukan
pekerjaan yang merugikan orang lain bahkan membersihkan lingkungan dari
kekumuhan sampah. Sepatutnya mereka dijuluki “tukang bersih”, sementara “tukang
sampah” adalah mereka yang jangankan untuk memanfaatkan kembali sampah,
membuangnya saja sembarangan. Tukang bersih ini adalah pecinta alam tanpa
lambang dan bendera, organisasi pecinta alam yang mempunyai lambang dan bendera
yang “penuh” arti sudah saatnya bertindak lebih luas dan berpengaruh,
setidaknya dapat meneladani para “tukang bersih”.
Alam
menjaga keselarasan kehidupan, alam
lestari, kehidupan lestari. Alam musnah, kehidupan punah. Ayo lestarikan
alam demi lestarinya kehidupan.