Minggu, 07 Desember 2014

Tukang Bersih, #teladan bagi Pecinta Alam seutuhnya.



Anak muda, jiwa yang terus bergelora, mencari kemana jati dirinya berada. Hiruk pikuk keramaian sekarang ini mudah ditemukan, dimana ekonomi ke-uang-an bergulir, desa pun menjelma ke-kota-kota-an. Sebagian merasa nyaman meramaikan perguliran uang sehingga kadang terasa tiada lagi sesuatu yang berharga tanpa memiliki uang, namun ini hanya bagi mereka yang menganut ke-uang-an sebagai dasar pada sila pertama pancasilanya. Sebagai makhluk yang berpikir dinamis, hal ini akan terasa membosankan hidup hanya karena uang, kepuasan yang baru akan dicari dengan sesuatu yang lebih mengekspresikan jiwa dan pikirannya.

Dari masa ke masa senantiasa muncul hal  baru sebagai wujud ekspresi ini, dari geliat musik, pemikir-pemikir virtual, olahraga ringan sampai menantang nan membahayakan, juga pencarian suasana murni, indah tak banyak terjamah di alam bebas. Yang terakhir ini banyak ditemui melalui organisasi kelompok pecinta alam. Kadangkala pecinta alam ini sering disalah-artikan dengan petualang. Saya tegaskan, pecinta alam terdiri dari 2 kata, yaitu pecinta dan alam. Pecinta berarti orang yang mencintai, menyayangi, menjaga dengan sepenuh hati apa yang ia cintai ini. Sedangkan alam berarti semesta, bumi, lingkungan tempat makhluk hidup berpijak. Pecinta takkan cinta bila tak tahu apa yang ia cintai, sehingga jelas pecinta alam ialah manusia yang mengenal alamnya, fungsinya, dan segala yang berkaitan dengannya. Alam adalah tempat berlangsungnya kehidupan, tersusun atas komponen hidup (biotik) dan tak hidup (abiotik) yang satu-sama lain saling mempengaruhi. Alam menjaga keselarasan kehidupan, alam lestari, kehidupan lestari. Alam musnah, kehidupan punah. Jelas, ini berbeda dengan petualang yang sebenarnya masuk dalam kelompok olahraga ekstrim yang bahaya adalah daya tarik utamanya, bahaya bagi jiwanya, bahaya pula bagi tempatnya. Sungguh jelas, mencintai  bukan untuk membahayakan.


Pecinta alam tidaklah mesti seorang anggota organisasi tertentu, sejatinya ia lebih berorientasi pada kegitan yang pro alam. Dengan masuk sebuah organisasi, tentunya aktifitas ini lebih terorganisir dengan adanya visi dan misi yang menjadi pedoman. Namun teladan kegiatan pro alam ini dapat datang dari mana saja, sebagai contoh dari “tukang bersih”, siapakah ini sang “tukang bersih”?.  Mari kita simak mengenai sang “tukang bersih” ini.

Dalam sudut pandang saya, yang semoga pula banyak orang dapat sependapat bahwa ada julukan yang buruk bahkan salah terhadap orang-orang yang bekerja dengan mengumpulkan dan memanfaatkan kembali sampah. Mereka dijuluki “tukang sampah”, padahal pekerjaan mereka bersih dan membersihkan. Bersih dalam arti bukan pekerjaan yang merugikan orang lain bahkan membersihkan lingkungan dari kekumuhan sampah. Sepatutnya mereka dijuluki “tukang bersih”, sementara “tukang sampah” adalah mereka yang jangankan untuk memanfaatkan kembali sampah, membuangnya saja sembarangan. Tukang bersih ini adalah pecinta alam tanpa lambang dan bendera, organisasi pecinta alam yang mempunyai lambang dan bendera yang “penuh” arti sudah saatnya bertindak lebih luas dan berpengaruh, setidaknya dapat meneladani para “tukang bersih”.

Alam menjaga keselarasan kehidupan, alam lestari, kehidupan lestari. Alam musnah, kehidupan punah. Ayo lestarikan alam demi lestarinya kehidupan.